Skip links

Native Collagen dan Recombinant Collagen: Apa Perbedaannya?

Native Collagen vs Recombinant Collagen – Seiring berkembangnya teknologi di bidang estetika medis, semakin banyak jenis kolagen yang digunakan dalam berbagai prosedur peremajaan kulit. Dua istilah yang kini mulai sering dibahas adalah native collagen dan recombinant collagen. Meski sama-sama mengandung kolagen, keduanya diproduksi melalui proses yang berbeda dan memiliki karakteristik tersendiri.

Dalam wawancara tim Pyfaesthetic bersama dr. Andreas Chandra (https://www.instagram.com/reels/DZzZJxWTDpc/), beliau menjelaskan bahwa perbedaan utama antara native collagen dan recombinant collagen terletak pada asal bahan pembuatannya. Selain itu, beliau juga membahas profil keamanan native collagen, termasuk risiko inflamasi dan reaksi alergi.

Lalu, apa sebenarnya perbedaan kedua jenis kolagen ini? Berikut penjelasannya.

Apa Itu Native Collagen?

Native collagen seperti yang menjadi bahan utama rangkaian perawatan premium Collost adalah kolagen yang masih mempertahankan struktur alaminya, termasuk bentuk triple helix yang menjadi ciri khas kolagen di dalam tubuh manusia. Struktur ini memungkinkan kolagen tetap berfungsi sebagai kerangka biologis (biological scaffold) yang membantu mendukung proses regenerasi jaringan.

Dalam dunia estetika, native collagen digunakan melalui prosedur injeksi untuk membantu memperbaiki kualitas dermis, meningkatkan elastisitas kulit, serta mendukung proses perbaikan jaringan. Berbeda dengan suplemen kolagen yang dikonsumsi secara oral, native collagen bekerja langsung di area yang memerlukan perawatan.

Native collagen umumnya berfungsi sebagai struktur pendukung sementara yang memungkinkan sel-sel tubuh bermigrasi dan membentuk jaringan baru selama proses regenerasi berlangsung.

Apa Itu Recombinant Collagen?

Recombinant collagen merupakan kolagen yang diproduksi menggunakan teknologi rekayasa genetika (genetic engineering). Dalam proses pembuatannya, gen yang membawa informasi pembentukan kolagen manusia dimasukkan ke dalam mikroorganisme, seperti ragi (yeast), bakteri, atau sel-sel lain yang kemudian menghasilkan protein kolagen melalui proses fermentasi.

Dalam wawancara dengan dr. Andreas Chandra, beliau menjelaskan bahwa native collagen berasal dari kolagen hewan, seperti sapi, sedangkan recombinant collagen dibuat menggunakan kolagen manusia yang diproduksi melalui stimulasi pada ragi dan teknologi bioteknologi lainnya.

Pendekatan recombinant collagen banyak dikembangkan karena memungkinkan produksi kolagen dalam jumlah besar dengan kualitas yang lebih konsisten melalui proses laboratorium.

Apa Perbedaan Native Collagen dan Recombinant Collagen?

Menurut penjelasan dr. Andreas Chandra, perbedaan utama keduanya terletak pada sumber asal kolagen.

Native collagen dibuat dari kolagen hewan, misalnya sapi, yang diproses dan dimurnikan sehingga tetap mempertahankan struktur alaminya. Sementara itu, recombinant collagen diproduksi menggunakan teknologi rekayasa genetika yang memanfaatkan sel atau mikroorganisme, seperti ragi, untuk menghasilkan protein kolagen yang menyerupai kolagen manusia.

Meskipun berasal dari sumber yang berbeda, kedua jenis kolagen dikembangkan untuk mendukung berbagai aplikasi medis dan estetika. Pemilihan jenis kolagen yang digunakan akan bergantung pada produk, indikasi klinis, serta pertimbangan dokter yang melakukan tindakan.

Bagaimana dengan Risiko Penggunaan Native Collagen?

Selain membahas perbedaan sumber kolagen, dr. Andreas Chandra juga menjelaskan mengenai profil keamanan native collagen.

Menurut beliau, native collagen memiliki risiko inflamasi yang lebih rendah. Selain itu, risiko terjadinya reaksi alergi juga relatif rendah, sehingga dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam prosedur regeneratif.

Beliau juga menyampaikan bahwa produk native collagen seperti Collost yang digunakan telah memperoleh persetujuan penggunaan di berbagai negara Eropa, yang menunjukkan bahwa produk tersebut telah melalui proses evaluasi terhadap aspek keamanan dan kualitas sesuai regulasi yang berlaku.

Meski demikian, seperti prosedur injeksi lainnya, setiap pasien tetap memerlukan konsultasi dan evaluasi medis sebelum menjalani treatment untuk memastikan terapi yang dipilih sesuai dengan kondisi kulit dan riwayat kesehatannya.

Mengapa Struktur Native Collagen Dianggap Penting?

Salah satu keunggulan native collagen adalah kemampuannya mempertahankan struktur triple helix, yaitu struktur tiga untai yang secara alami ditemukan pada kolagen manusia.

Struktur ini memungkinkan native collagen berfungsi sebagai kerangka sementara di dalam dermis yang membantu mendukung regenerasi jaringan. Selama proses tersebut berlangsung, sel-sel tubuh dapat bermigrasi ke area yang dirawat sehingga lingkungan kulit menjadi lebih kondusif untuk proses perbaikan alami.

Karena bekerja sebagai bagian dari struktur dermis, pendekatan ini sering dikenal sebagai collagen replacement, yaitu menggantikan kolagen yang berkurang akibat proses penuaan atau kerusakan jaringan, bukan sekadar merangsang tubuh untuk memproduksi kolagen baru seperti pada treatment collagen stimulator.

Apakah Native Collagen Lebih Baik daripada Recombinant Collagen?

Hingga saat ini, belum dapat disimpulkan bahwa salah satu jenis kolagen secara umum lebih baik dibandingkan yang lain. Native collagen maupun recombinant collagen memiliki karakteristik, metode produksi, dan aplikasi yang berbeda.

Dalam praktik klinis, pemilihan produk tidak hanya ditentukan oleh jenis kolagen, tetapi juga mempertimbangkan kondisi pasien, tujuan perawatan, bukti ilmiah yang tersedia, serta pengalaman dokter yang melakukan tindakan.

Oleh karena itu, pasien sebaiknya tidak hanya berfokus pada istilah “native” atau “recombinant“, melainkan memahami bagaimana produk tersebut bekerja, indikasi penggunaannya, serta apakah terapi tersebut sesuai dengan kebutuhan kulit masing-masing.

Baca Juga:

Kesimpulan

Menurut penjelasan dr. Andreas Chandra, native collagen dan recombinant collagen memiliki perbedaan utama pada sumber pembuatannya. Native collagen berasal dari kolagen hewan yang telah dimurnikan, sedangkan recombinant collagen diproduksi menggunakan teknologi rekayasa genetika melalui mikroorganisme seperti ragi.

Dr. Andreas juga menjelaskan bahwa native collagen memiliki risiko inflamasi dan reaksi alergi yang relatif rendah serta telah memperoleh persetujuan penggunaan di berbagai negara Eropa. Karena masing-masing memiliki karakteristik dan indikasi yang berbeda, pemilihan terapi sebaiknya dilakukan berdasarkan evaluasi dokter dan kebutuhan setiap pasien.

Referensi:

  • https://www.instagram.com/reels/DZzZJxWTDpc.
  • https://revagi.sg/blogs/news/recombinant-collagen-vs-traditional-collagen-what-s-the-difference?srsltid=AfmBOopsmvo_hCAyV7eazlipCkEXg4_MwGzedl8SWkFxlWJzq-MocuwH.
  • https://pyfaesthetic.com/collost.

Leave a comment

Custom Plugin aktif 🚀

×

PYFAESTHETIC VERIFICATION